Kamis, 11 Juni 2015

Shocktherapy dalam Menghadapi Depresi


Shocktherapy dalam Menghadapi Depresi

Nama : Mohammad Sya’bana
Nim : 310112022049


Pengertian Depresi

Ada beberapa definisi depresi menurut para ahli, mari kita simak :

Menurut Rice PL (1992), depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang. Pada umumnya mood yang secara dominan muncul adalah perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan.

Menurut Kusumanto (1981) depresi adalah suatu perasaan kesedihan yang psikopatologis, yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata sesudah bekerja sedikit saja, dan berkurangnya aktivitas. Depresi dapat merupakan suatu gejala, atau kumpulan gejala (sindroma).

Menurut Kartono (2002) depresi adalah kemuraman hati (kepedihan, kesenduan, keburaman perasaan) yang patologis sifatnya. Biasanya timbul oleh; rasa inferior, sakit hati yang dalam, penyalahan diri sendiri dan trauma psikis. Jika depresi itu psikotis sifatnya, maka ia disebut melankholi.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental (berpikir, berperasaan dan berperilaku) seseorang, muncul perasaan tidak berdaya dan kehilangan harapan¸yang disertai perasaan sedih, kehilangan minat dan kegembiraan, berkurangnya energi yang menuju kepada meningkatnya keadaan mudah lelah yang sangat nyata dan berkurangnya aktivitas.tian Depresi

Shock Therapy
Hanya saja terapi ini mempunyai semacam efek samping yaitu menghilangkan sejumlah memori ketika terapi sedang berlangsung, termasuk memori yang terjadi bertahun-tahun lalu tapi muncul ke permukaan lagi karena prosedur tersebut. Inilah yang dimanfaatkan peneliti untuk menghapus kenangan buruk pasien, atau trauma yang ingin dilupakan si pasien.

Untuk membuktikan apakah memori buruk itu benar-benar bisa dihapuskan dengan ECT, tim peneliti yang dipimpin oleh Marijn Kroes, seorang pakar ilmu saraf dari Radbourd University Nijmegen Belanda melibatkan 42 partisipan. Sebelumnya, setiap partisipan diminta mendengarkan beberapa cerita menyedihkan. Misalnya kisah tentang seorang anak yang kedua kakinya harus diamputasi.

Seminggu kemudian, sesaat sebelum partisipan menerima ECT, mereka diminta mengingat kisah-kisah tersebut. Peneliti menduga dengan meminta mereka mengingat rincian dari kisah sedih itu maka akan mengubah kisah tersebut menjadi ingatan yang paling baru.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar